What Would Jesus Do?

Jaman akhir, mungkin ini adalah sebutan yang tepat untuk waktu2 sekarang, dimana dunia berubah dengan sedemikian instantnya. Banyak individu menganggap “agama” bukanlah jalan keluar bagi hidup mereka. Karena “agama” lah yang menyebabkan berbagai peperangan, perpecahan, kebencian, egoistis, dllsb. Berbagai paham pun mulai bermunculan lebih melihat ke segi “kemanusiaan” & “kedamaian” yang dicari, bahkan penyatuan paham (pluralism) dianggap jalan terbaik, karena alasan “kemanusiaan” .

Kekristenan pun berubah sedemikian  beragam mengikuti perkembangan jaman. Jika agama dianggap bukan jawaban buat dunia ini. Apakah kekristenan adalah jawaban? Apakah “gereja” yang menyandang kekristenan dipundaknya adalah ending dari pencarian akan “keselamatan” pada kehidupan selanjutnya? Untuk kehidupan selanjutnya, jawabannya “mungkin” Ya. Tapi apakah “gereja” ending dari pencarian keselamatan di dunia ini?

Tak dapat dipungkiri, kekristenan mengalami pengeseran-pengeseran nilai2 kekeristenan yang seharusnya menjadi esensi dari kekristenan itu sendiri. Sering gua bertanya, “kemanakah nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan?” Akan dibawa kemana gua? Bukan hanya gua tentunya tapi anak-anak muda lainnya, anak-anak di bawah umur yang jelas masih membutuhkan bimbingan.

Dan gua merenungkan, apa yang akan Yesus lakukan jika Dia hidup pada jaman sekarang? Akankah Dia melayani di gereja? Akankah Dia menjadi pengkotbah? Atau Dia menjadi “sampah jalanan” ? What would Jesus do?

Apakah Dia akan mengecam gereja-gereja yang menyalahgunakan firman, sebagai dalih untuk meraih  keuntungan pribadi. Mengunakan ayat-ayat pendukung penggunaan media-media tertentu sebagai sarana mukjijat, hanya karena strategi marketing? atau untuk beli merci?

Apakah Dia akan mengobrak-abrik bait Allah (baca: gereja) karena didalamnya telah begitu “busuknya”, menjadikan baik Allah pusat perdagangan, pencarian keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Yang dengan bangganya menjadi Farisi di era modern, mengatasnamakan Tuhan & selimut dari “nama Tuhan dimuliakan”

Apakah Dia bangga dengan anak-anakNya yang melayani di gereja, menjadi pelayan mimbar, atau sebagai WL posisi yang dianggap “beken”. Dimana pelayanan seseorang/posisi seseorang pada jabatan tertentu di gereja “dianggap” menentukan tingkat kerohanian seseorang.

Banggakah Dia dengan mereka yang pada hari sabtu/minggu datang beribadah, memuji & meninggikan namaNya, namun melupakanNya pada hari-hari lainnya. Menerapkan gaya hidup & perkataan yang tidak sesuai, meninggalkan atitude & karakter kekristenan.  Yang dipikirkan hanyalah “apa yang harus aku kenakan agar aku terlihat cantik/ganteng” , “berapa rupiah yang harus aku dapatkan hari ini”, “makan apa” , “ke club mana”, “belanja dimana”, “gaget terbaru”, “nonton film bioskop apa”, dllsb

Bagaimanakah sikapNya terhadap KKR, Konser Rohani, kegiatan sosial lainnya yang diadakan dengan berjubahkan “Yesus peduli”, namun tetap mengunakan spanduk besar bertuliskan nama gereja atau komunitas tertentu atau pribadi. Menjadi “malaikat” sejenak di acara panti asuhan atau panti jompo, namun pada hari-hari berikutnya tidak punya hati pada nenek tua di jalan atau anak kecil yang meminta-minta di jalan. Menjadi hebat pada “konser music” bak performer professional, namun pujian yang sesungguhnya tidak hadir pada hari-hari berikutnya.

Akankah ucapan bahagia & kotbah kerasNya di atas bukit diterima? seperti pada saat ini yang “seakan” menerima, namun tidak diindahkan?

Apakah Yesus sedemikian jijik dengan praktik-praktik dalam gereja sehingga lebih memilih hidup di jalanan, dengan murid-murid yang Dia pilih jelas bukan seseorang yang hebat pada awalnya. Ataukah Dia dengan senang hati datang ke gereja?

What Would Jesus Do?

WWJD, populer di kalangan anak muda pada abad ke 18, sebagai pegangan ribuan orang2 Kristen, sebagai “reminder” bagi orang2 tersebut dalam menjalani hidup. Dan mungkin menjadi bahan perenungan gua sekarang.

Yesus, seperti dituliskan dalam sebuah buku, seseorang yang tidak mudah ditebak. Dia seseorang yang mengikuti hukum namun di saat yang sama Dia terkenal sebagai “lawbreaker” . Dia bisa tersentuh oleh orang asing, di saat berikutnya Ia menyebut sahabatNya dengan keras, “Pergilah engkau, setan!”. Dia melihat dengan tidak kompromi mengenai orang kaya dan janda yang miskin, namun Dia juga yang duduk bersahabat dengan mereka. Suatu hari mukjijat diimpretasikan dengan luar biasanya oleh Dia, di saat berikutnya kekuatanNya terhalang hanya karena iman seseorang. Dia berbicara dengan jelas mengenai kedatanganNya yang kedua, namun Dia tidak mengetahui hari & jamnya. Dia mengutarakan ke public kalau DiriNya adalah Mesias, yang akhirnya menimbulkan kontroversi, di saat berikutnya Dia menyuruh orang diam pada saat Dia melakukan mukjijat untuk orang tersebut.

What Would Jesus Do?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: