Tuhanku Tuhanku

Perjalanan mengenal Tuhan bukan perjalanan yg singkat. Banyak orang cepat puas dengan sosok Tuhan imajiner buatan mereka sendiri, mengotakan Tuhan seolah Tuhan itu dalam sebuah kotak yg sudah terpatenkan tidak akan berubah keluar dari kotak tersebut.

Pengotakan sosok Tuhan tersebut meliputi sifat2 Tuhan itu sendiri dan juga gonjang ganjing perasaan si Tuhan itu, dengan apa Ia senang, bagaimana Ia bisa sedih, atau bahkan sangat terhibur dengan kita. Ya, manusia berimajinasi seolah mereka adalah point utama yg bisa mempengaruhi perasaanNya.

Yang saya lihat justru mereka tidak sedang menyenangkan Tuhan, tapi justru mereka sedang memuaskan diri mereka sendiri. Mereka tidak berusaha mengejar pengenalan akan Tuhan, tapi mereka sudah cukup tau kalo Tuhan itu baik titik.

Sepanjang proses perjalanan saya berusaha mengenal Dia, semakin saya menerka Dia, semakin saya mencari seperti apa Dia, yg saya rasakan adalah Dia semakin menjauh. Seolah tidak akan pernah ada habisnya. Ibarat mencari tau soal alam semesta, tidak akan pernah cukup materi dan bukti2, semakin dicari dia semakin luas terlihat. Semakin tidak tergapai dan apalagi tersentuh. Sampai akhirnya saya menyadari betapa kecilnya saya bagai setitik pasir di bumi. Mungkin saya akan berhenti mencari, karena Dia terlalu besar untuk saya.

Oleh karena itu saya selalu ‘tergugah’ melihat Tuhan yg dikotakan, si Tuhan imajiner. Andai sesimpel itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: