Rasa Takut untuk Dinilai / Dihakimi

“Don’t even give a shit for others think about you!”

Jaman ini membentuk individu yang semakin individualis, individu yang lupa mereka hidup dalam tatanan sosial. Bobroknya manusia jaman sekarang dikarenakan manusia sudah skeptis untuk mendengarkan, mereka lebih memilih untuk percaya sama diri mereka sendiri. Manusia jaman sekarang menutup pikiran dan telinga mereka untuk apa yg orang lain katakan mengenai mereka.

Di satu sisi hal ini baik, karena kamu tidak membatasi diri kamu terhadap apa yg orang lain katakan, kamu berkembang tanpa batasan apa yang orang lain pikirkan. Benar? Tapi bukankah saat kamu memiliki mindset tersebut yang kamu lakukan adalah hal yang sebaliknya; kamu sedang menutup diri dan membatasi diri kamu dari pengaruh luar yang mungkin hal tersebut adalah baik.

Saat kamu membatasi diri dari penilaian orang dengan keras, hal yang sebenarnya sedang kamu lakukan adalah lari, lari dari apa yang kamu tahu itu benar. Kamu takut dan tidak mau mendengar kenyataan kalau memang demikianlah kamu, kamu lebih memilih untuk menutupi apa yang kamu tahu tersebut dengan delusi kamu sendiri.

Tidak semua apa yang orang lain katakan mengenai kamu itu benar, setuju. Tapi bukankah mereka ‘menghakimi’ karena mereka melihat? Kita tidak bisa mengontrol apa yang mereka lihat dan kemudian yang mereka nilai, karena yang mereka lihat adalah KAMU. Sama seperti kamu juga nggak akan pernah bisa mengontrol otak kamu untuk menilai orang lain yang kamu lihat. Kalau otak kamu bebas menilai orang lain kenapa kamu nggak bisa biarkan orang lain bebas menilai kamu?

Jawabannya sederhana, karena kamu takut untuk dinilai, karena kamu tahu nilai yang diberikan orang lain bisa merusak citra diri yang lagi kamu bangun, kamu membentengi diri kamu untuk tidak disakiti.

Saat kamu menolak penilaian dari tatanan sosial, kamu sedang membentuk penilaian sendiri dalam lingkaran sosial kamu, kamu takut akan perasaan ‘tertolak’ dari lingkungan sosial karena itu kamu membentuk benteng anti-penilaian supaya kamu tetap diterima dalam lingkungan sosial. Aneh? Memang aneh.

Saat kamu merasa tertolak karena penilaian orang yang ‘berbeda’ dan menyinggung, kamu menghibur diri kamu sendiri dengan sentuhan manis; “don’t judge a book by a cover” atau “Don’t give a shit for other think about you”. Kemudian perasaan tertolak tersebut akan ter-cover dengan indahnya. You do give a shit!

Kondisi otak manusia otomatis bekerja menilai orang lain, ini sesuatu yang nggak bisa kamu hindari. Bagaimana kamu mau jadi diri kamu yang terbaik kalau kamu menutup diri kamu dan lari dari penilaian orang? Kamu ngerasa paling bener dan paling keren, karena itu kamu menolak untuk dinilai, tapi kemudian di saat yang sama secara nggak sadar kamu sibuk membandingkan diri kamu dengan orang lain, membandingan dengan takaran penilaian kamu sendiri; dan kondisi terparah adalah kamu ngerasa nggak ada orang sekeren kamu, sakit!

Banyak manusia jaman sekarang semakin keras, manusia-manusia yang sudah menutup dirinya dengan jutaan kemungkinan manis, manusia yang percaya akan delusi ciptaannya sendiri. Manusia-manusia keras yang kesepian.

“Loh memang apa yang mereka nilai nggak bener kok!” Ya siapa yang bilang penilaian orang pasti benar, tapi semua orang punya sudut pandang berfikir masing-masing. Pemikiran yang nggak sesuai sama pemikiran kamu memang belum tentu benar, tapi belum tentu juga salah.

Proses manusia berfikir tergantung dari apa yang tersimpan dalam gudang memori manusia, apa yang mereka percaya, apa yang tersimpan dalam gudang pemahaman mereka dan bagaimana lingkungan membentuk pola pikir mereka. Jadi bagaimanapun penilaian mereka itu terbatas dari apa yang mereka pahami. Ketika kamu bisa memahami dan menerima pemikiran lain maka kamu bisa melihat banyak pandangan lain dari kehidupan orang lain. Kenali diri kamu dan jangan batasi diri kamu dengan penilaian, selama kamu bisa menyaring informasi dengan benar lalu apa yang harus kamu kuatirin dari penilaian orang?

Kalau kamu tahu dan menerima kekurangan sebagai bagian dari diri kamu, apa perlu kamu takut dinilai karena kekurangan kamu? Justru karena kamu berusaha menutupi kekurangan kamu jadi kamu takut dinilai karena kekurangan kamu itu. Wake up!

Stop membangun generasi yang keras dan nggak mau mendengarkan, stop membangun generasi yang membatasi diri dari kemungkinan, stop membangun generasi yang sakit. Jadilah dewasa dalam menerima penilaian, bukan anti terhadap penilaian.

“I am free to be judged”

Nuff said.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: