Jalan Menuju Holyhope (Part I)

Jangan Lupakan Holyhope

Hai namaku Only, aku bukan seorang periang, bukan pula seorang yang pendiam. Akupun tidak terlalu pintar tetapi juga tidak bodoh. Sepertinya aku sendiri sulit memperkenalkan diriku. Aku hidup di perbatasan Myrix, daerah yang tidak terlalu menyenangkan untuk ditinggali, karena daerah ini dipenuhi dengan bentangan lautan. Cukup indah untuk dipandang, cukup nyaman untuk ditinggali, namun kami harus hidup dalam Kapal Layar.

Setiap orang yang tinggal di hamparan Myrix mempunyai banyak pilihan untuk menaiki Kapal Layar yang mana yang mereka sukai. Kapal Layar tersebut bertebaran, Anda bisa cukup jauh berjalan dan menemukan kapal lainnya. Dan aku yakin ada begitu banyak kapal yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Bangsa Myrix berharap mereka dapat sampai ke daratan Holyhope, tempat yang indah, tempat tanpa tangisan dan sungguh tempat yang dinantikan semua orang, karena kekekalan ada di sana. Yah kami semua sangat menantikan Holyhope.

Kami tidak perlu bingung mencari jalannya karena Kapten kapal mengetahui jalan menuju Holyhope, walaupun lucunya mereka belum pernah ke Holyhope. Mereka memiliki peta dan kompas petunjuk arah. Peta tersebut hanya berupa simbol-simbol awalnya, dan para ahli Myrix menerjemahkan simbol-simbol tersebut dan memperoleh peta yang kini digunakan oleh para Kapten Kapal. Mereka bisa saja percaya pada hasil dari itu atau menemukan arti dari simbol lain sebagai petunjuk arah. Kapal Layar tersebut berjalan sesuai dengan kecepatannya masing-masing, dan mereka harus berhenti jika menemukan manusia di Klone (seperti daun hijau besar yang mengapung di lautan, tidak dapat bergerak terlalu jauh karena akarnya tertancap di dasar lautan), dan menyediakan mereka untuk masuk dalam kapal jika mereka berkenan. Dan ketika Bangsa Klone menemukan pengharapan yang sama, yaitu menemukan Holyhope, dan melakukan perjalanan bersama kami maka mereka diakui sebagai bangsa Myrix.

Sebagian dari Bangsa Myrix mungkin lupa akan Holyhope, karena mereka begitu sibuk dengan kegiatan mereka dalam kapal. Untung saja tetap ada Kapten Kapal yang tetap mengawasi jalannya perahu ini. Sempat saya berfikir, bagaimana jika Kapten Kapal terlena & melupakan Holyhope juga, apa jadinya kami ini.

Aku tinggal dalam kapal Oscube, sepertinya aku sendiri sudah lupa bagaimana aku bisa ada di Oscube. Perahu yang sederhana, tampak ramah namun konservatif, cukup indah dan menyenangkan. Kapal ini punya pintu yang cukup kecil untuk menuju ke dermaga kapal, dan melihat haparan lautan, perjalanan kami. Dari dermaga begitu banyak hal dapat dilihat, mulai dari sesuatu yang baik, sampai sesuatu yang keji. Atau melihat keanehan bangsa Klone yang sibuk dengan diri & daun mereka, tak sadar kalau daun tersebut bisa menenggelamkan mereka.

Para Myrix dalam perahuku ramah dan menyenangkan, di dalam Oscube kami melakukan tugas-tugas kami agar kehidupan tetap berjalan dan kami dapat selamat sampai di Holyhope. Mereka sudah bagaikan keluarga bagiku. Diam-diam aku suka pergi ke dermaga, tidak seperti kebiasaan bangsa Myrix lain dalam Oscube. Dalam dermaga aku dapat melihat Kapal Layar lain yang tentu berbeda dengan kapal yang kudiami, dan melihat bangsa Klone, dan menyadari sudah lama sekali tidak ada bangsa Klone yang menaiki kapal kami. Atau mereka hanya datang sebentar kemudian kembali pada Klone mereka.

Sekian lama perjalanan kami, kemudian aku dari dermaga melihat tampak luar, bahwa Oscube mulai rusak. Ada bagian-bagian yang tak terawat benar, sehingga nampaknya Oscube terlihat rapuh. Dari jendela pun aku melihat, para Oscube, sibuk mendandani diri mereka supaya terlihat menarik, sibuk dengan kegiatan mereka, sibuk dengan kekeluargaan mereka, sibuk juga dengan asmara mereka, dengan persahabatan dan perkelahian mereka, sibuk dengan gosip terbaru mereka.

Aku tidak ingin Oscube tenggelam dan kami tidak dapat sampai ke Holyhope. Aku kemudian mengajak para Oscube untuk memperbaiki perahu ini. Tetapi ajakanku sepertinya ditolak, karena menurut mereka apa yang aku lakukan dapat merusak Oscube yang sudah cukup indah buat mereka. Dan aku hanya dapat merenung di dermaga dan sesekali melihat perahu yang lewat dan terkadang aku berhasil memasuki perahu lain, melihat-lihat didalamnya. Ada 1 perahu yang cukup menarik hatiku, Bathr, penampilannya rapi, teratur & sepertinya orang-orang didalamnya terlatih dalam bidangnya. Mereka tidak sibuk dalam kapal, tetapi sepertinya dermaga mereka sangat besar untuk berkegiatan atau untuk bangsa Klone singgah. Pintu dermaganya pun sangat besar. Memang tetap ada yang tidak sempurna dari Bathr, tapi perahu ini tampak memukau. Saya tidak mau membuang kesempatan, aku mencoba belajar banyak agar aku bisa memperbaiki Oscube.

Namun sepertinya yang aku lakukan adalah salah bagi Para Oscube, mereka mungkin menganggapku tidak setia, aku sendiripun kurang tahu. Sedih yang kurasakan, menyadari aku tidak dapat berbuat banyak. Para Oscube suka untuk membuat diri mereka tampak menarik, dan aku sepertinya mulai muak dengan itu. Yang mereka lakukan hanyalah bagi ‘fisik’ diri mereka sendiri. Banyak para Oscube akhirnya menjalani tugas-tugas mereka seperti robot, mereka terlihat seperti Bidadari dan Pangeran dari luar dan hampa di dalam. Karena mereka melupakan Holyhope Myrix. Bagian-bagian yang rusak dalam Oscube tersisihkan, para Oscube lebih suka akan kebaikan kapal yang ada dan menyisihkan kerusakannya. Perahu berjalan tak terarah karena Para Oscube sibuk dengan diri mereka.

Sampai peristiwa yang tidak kuduga terjadi, lautan yang tenang menjadi gelombang dan menghancurkan sisi-sisi rapuh Oscube. Aku takut Oscube tenggelam dan berkata “Sudah kukatakan Oscube rusak, kalian tidak mau memperbaikinya!”. Sikap sok tahuku sepertinya membuat beberapa penduduk Oscube marah. “Sok tahu!”, “Perusak!”, “Tidak setia!” kira-kira kata-kata tersebut yang dilontarkan oleh mulut mereka. Oscube rusak cukup berat karena gelombang tersebut. Dan gelombang itu tidak hanya menghancurkan bagian Oscube tetapi juga memecah para Oscube. Melihat bahwa Oscube rusak cukup parah & tidak ada yang memperbaikinya, membuat kami cukup muak. Gelombang terus menghantam Oscube, aku dan beberapa para Oscube lari ke dermaga. Dekat dari Oscube terlihat Bathr, Kapal Layar yang memukau, gelombang ini sepertinya tidak mempengaruhi Bathr. “Selamatkan diri kita, Oscube tidak dapat diperbaiki, lompaaat ke Bathr!!” seseorang berteriak. “Lompat Only! Lompaaat” ada suara meneriakan itu padaku, tetapi aku tidak mungkin meninggalkan Oscube seperti itu, hatiku sepertinya turut bersuara.

Sementara terjadi di dalam Oscube,

“Tenang tidak akan terjadi apa-apa! Kita akan perbaiki Oscube”

Orang-orang didalamnya bersembunyi, ada yang tetap dengan kegiatan mereka, asmara mereka, harta mereka, ada juga yang entah dimana. Suara mereka memekakan perbaikan, namun tubuh dan hati mereka hilang.

“Only cepat menyebrang ke Bathr!!”

“Tidak, tidak, aku harus menolong mereka”

“Kamu tidak bisa Only, mereka tidak melihat ada yang harus diperbaiki, karena mereka tidak melihat dari luar dermaga! Cepat menyeb’rang!”

Kakiku berpijak di antara Oscube & Bathr.

“Lepaskan kakimu dari Oscube Only!, jangan berpijak dengan keduanya!”,

“Tidak, tidak, aku tidak bisa, Oscube adalah rumahku.”

“Tidak ada yang dapat kamu lakukan di sana, mereka menolakmu.” “Tidak! Tidaaak! Mereka keluargaku!”, “Lepaskan kakimu!”

“Yang mana yang harus kulepaskan?!”

“LEPASKAAN……!”

 

 

 

Dan akhirnya aku melepaskan salah 1 kakiku diantara dua perahu tersebut.

Aku terhempas di Bathr, tempat yang asing bagiku, dan memandang Oscube berjalan semakin menjauh ….

 

 

April 12, 2009

Credit Image: Merriam Exclusive Collections

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: