Mengapa ‘Tuhan’ Tidak Mau Bertemu Aku?

Hari ini aku makan sampah lagi, tumpukan sampah di belakang rumah makan itu. Rumah makan itu selalu ramai, mereka yang datang selalu berpakaian rapi dengan kendaraan mereka. Rumah makan itu dihiasi lampu-lampu indah, lampu itu terkadang seperti bintang, redup dan menyala dipadangan mata ini sampai mata ini tertutup lelahnya.

Makanan ini enak, walau kadang aku harus mengais dan membersihkan sedikit kotorannya, tapi ini tidak mengapa daripada perutku berteriak sepanjang malam. Terkadang sedikit bercampur cacing dan kecoak, tapi sungguh ini hanya perlu dibersihkan sedikit saja, dan rasanya tetap sangat enak.

Aku suka berkunjung ke sebuah tempat, mereka bilang ada Tuhan di sana. Aku ingin bertemu Tuhan dan bertanya kepadanya, dimana ibuku? Terakhir aku bertemu dia tidak menjawab panggilanku, padahal aku memanggilnya berkali-kali dengan sangat keras. Aku menangis, diapun tetap tak menjawab. Mereka bilang ibuku ada bersama Tuhan, karena itu aku mencari Tuhan. Mereka bilang Tuhan baik, Tuhan sahabat semua orang dan Tuhan akan menolong aku.

Aku tidak tahu, ketika aku ingin bertanya dimana Tuhan, mereka dari dalam mobil menunjukan tangannya dengan kelima jari mereka, seperti mengucapkan halo dan kemudian beranjak pergi. Berkali-kali seperti itu. Mereka yang berjalan kakipun melangkah semakin cepat bila aku mendatangi, terkadang mereka memberikan aku uang lalu dengan segera mereka pergi. Banyak anak seperti aku, aku tidak tahu mereka pun lari menjauhi aku, menutup hidung mereka dan pergi. Bapak tua di depan gerbang gedung itupun demikian, dia menyuruhku pergi. Mengapa Tuhan sulit sekali ditemui? Apa salahku tidak dapat bertemu Tuhan?

Aku pikir aku bisa bertemu Tuhan di malam hari, mungkin di siang hari Dia sibuk dengan banyak orang yang selalu lalu lalang di gedung itu. Jika aku datang malam hari, pasti aku bisa bertemu Tuhan. Gedung tinggi itu gelap dan tertutup, jangan-jangan Tuhan sudah tidur, tapi tak mengapa daripada aku tidak bisa bertemu Tuhan mungkin Dia akan berbaik hati mau bangun sebentar untuk aku.

Aku masuk dan mencoba menyusup disela-sela pagar tinggi yang menutupi gedung itu. Sempit dan membuat aku sesak, kulitku sedikit tergores dan air mata ini mulai bergumpal di mataku, ini sakit, aku hanya bisa mengigit bibirku dan menahan air mata ini supaya tidak jatuh semakin deras. Sebentar lagi aku bertemu Tuhan.

Aku masuk ke dalam, sulit menemukan aku harus melewati jalan yang mana, Tuhan ada dimana? Beberapa pintu coba aku buka tapi tidak bisa, beberapa kali aku paksa tetap tidak bisa. Tiba-tiba ada suara keras di luar sana, datang mendekati, dia berteriak-teriak dan aku takut. Pria besar itu mendekat, dia marah-marah dan memanggil aku maling. Aku takut, aku tidak mengerti, aku hanya ingin bertemu Tuhan.

Dia menarik tanganku dan menarik-narik aku, tanganku sakit. Aku ingin memberitahunya kalau aku cuma ingin bertemu Tuhan, tapi suara ini tidak mampu keluar, air mata ini kembali bergumpal dipipiku. Pria itu tetap berteriak-teriak aku tidak mengerti apa yang dia katakan, dia memukul kepalaku beberapa kali dan menampar pipiku. Sakit sekali rasanya, aku kembali mengigit bibirku, mencoba untuk tidak menangis. Aku berusaha keras mencoba melepaskan tanganku, pegangannya begitu kuat, tangan ini serasa akan patah. Aku berteriak, menendang-nendang berharap aku dilepaskan, gigitan bibir ini terlepas sudah, tangisan dan teriakan tercurah sudah. Pria itu menampar aku lagi karena aku berteriak, aku takut, sangat takut. Apakah dia penjaga Tuhan?

Aku berhasil melepaskan diriku, aku berlari ke jalan yang kulalui saat masuk, tergesa-gesa aku kembali melewati sela-sela pagar itu, terasa lebih mudah. Setelah keluar dari sana aku berlari sekencang mungkin, aku takut, tak pernah aku setakut ini. Setelah cukup jauh aku berlari, aku lega karena pria itu tidak mengejarku.

Kurasakan perih diseluruh badanku, hati ini pun terasa jauh lebih perih, sangat pedih. Tuhan, apa salahku? Mengapa sulit sekali diriku bertemu Tuhan? Tidak seperti mereka yang punya kendaraan dan berpakaian bagus.

Gelap, di sini sangat gelap dan aku sangat takut, aku kembali berlari mencari tempat yang terang. Aku takut mereka datang lagi, mereka dalam kegelapan, aku ingat mereka membawaku ketempat yang gelap, sampai di sana aku tidak dapat mengingat apa-apa selain aku bangun dengan rasa sakit ditengah-tengah paha ini, perih.

Kutemukan kardus ditiduri kucing dan anak-anaknya, aku menyelinap di sana, semoga aku tidak ditemukan. Aku lapar sangat lapar, dan sakit disekujur tubuh ini hanya membuatku menangis, entah kenapa air mata ini tidak mau berhenti. Aku malu dengan ibu kucing yang melihatku terdiam, seolah bertanya ada apa dengan diriku. Aku rindu pelukan ibu, seperti ibu kucing itu memeluk anak-anaknya. Mengapa lebih mudah untuk bertemu kucing dan mendapatkan kehangatan daripada bertemu Tuhan. Apa salahku?

Aku berharap aku tertidur dan tidak bangun lagi, seperti ibuku, aku ingin bertemu dia. Di sini aku sendirian, sakit dan kelaparan, dunia apakah ini? Mengapa aku harus ada di sini? Aku berharap diri ini tidak pernah dilahirkan di sini.

Advertisements

One thought on “Mengapa ‘Tuhan’ Tidak Mau Bertemu Aku?

  1. suryanto says:

    Nice story, jd berpikir betapa beruntungnya diriku n juga betapa Tuhan mungkin cuma imajinasi buatan manusia saja.

    Jika anak itu kisah nyata semoga bisa dibantu oleh orang-orang yg baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: