Mimpi Kekosongan Mimpi

Antara terang dan gelap, antara siang dan malam, antara hitam dan putih, peperangan abadi terjadi pada semesta.
Bergulir dan terhempas, anak-anak langit dan anak-anak samudra.
Menyatu dalam pertarungan membukakan jejak gerbang menuju kesempurnaan.

Cahaya menerobos kehampaan langit. Menembus awan tipis, menghujam lensa mataku.
Mata ini baru saja menelan bintang.

Sorot jutaan tahun cahaya, mendobrak langit. Menghantam bumi.
Mataku baru saja menangkap benda berumur jutaan tahun. *)

Gugusan awan bergandengan di langit begitu indah, seperti gula-gula kapas dalam mimpiku. Mimpi berjalan dalam gelap bertaburan bintang, langit yang begitu luas sehingga menyesakkan. Aku ingin seperti angin, terbang bebas dan tak terlihat mungkin aku bisa menyentuh gumpalan gugusan awan dan meraih bintangku, atau aku bisa segera berpulang kembali mejadi partikel-partikel bintang tempat yang selama ini menghantui pikiran ini. Semakin jauh aku mencari, semakin aku tenggelam dalam kegelapan, belenggu ini seolah tidak dapat aku lepaskan. Aku sendirian, langit malam adalah sahabat terbaikku, karena dalam gelap aku bisa melihat jelas bintang-bintang itu.

Tawa, kebahagiaan, pesta pora, semua ini seperti lelucon permainan keangkuhan. Aku ingin keluar, keluar dari semua ini, melepaskan rantai yang seolah mengikat pada pergelangan kaki ini.

Lorong-lorong yang kulalui begitu kelam dan gelap, udaranya terasa dingin dan meyesakkan tak terlihat batas ujungnya. Aku seperti menembus dimensi yang berbeda, menelusuri lorong yang sama namun tempat yang berbeda. Terasa tidak nyata namun terlihat seperti realita. Lorong ini memberikan ketakutan, hanya mengumpulkan keberanian untuk melangkahkan kakiku kembali satu-satunya cara untuk bertahan. Dimensi ini memabukkan, langkahku semakin pelan dan tubuh yang lemas ini terjatuh, bulir-bulir keringat bertaburan sampai ke ujung jari-jari. Mataku tersayup dan pandanganku kabur. Kesadaranku terlena dengan suara sayup-sayup deru ombak dan desiran angin laut, suara yang entah mengapa sangat kurindukan. Aku lelah.., sangat lelah…

Aku muak, aromanya membuatku merasa semakin membusuk, tempat ini akan membuatku mati, sepertinya aku akan mati karena muak yang tak tertahankan, kepalsuan yang membuat jari-jari ini nyeri. Di tengah malam gelap, hamparan lautan terbentang, jagat raya bertaburan bintang, dimensi yang  tidak memiliki kehidupan. Setelah sekian lama, lebih dari 10.220 kali terang kembali menyinari dimensi ini, tempat aku mabuk akan pesona semua memori berputar dengan indahnya di alam pikiran ini. Air mataku mengalir, ketakutan yang tersembunyi di sudut kecil setiap detak jantung, takut untuk melangkah dan kuatir akan apa yang aku pikir benar adalah suatu kesalahan. Kakiku bergetir untuk melewati batas perjalanan dan untuk melompat melewati batas lorong-lorong ini. Terus menerus aku menguatkan diri yang tak berarah ini, semua seolah tak ada lagi, dimensi ini menghilang ditelan kegelapan pikiranku.

Aku bermimpi dimana dimensi ini menjadi tempat untuk berlari bebas di hamparan rerumputan dan harum pepohonan, dimana sesama aku tidak dibatasi oleh mesin-mesin jaman. Aku bermimpi dimana dimensi ini menjadi tempat untuk hembusan nafas kelegaan dan nyanyian kerajaan animalia, dimana sesama aku tidak dibatasi oleh lembaran kertas yang tertera coreng keangkuhan. Aku bermimpi dimana dimensi ini menjadi tempat untuk setiap harapan dan gugusan bintang-bintang selalu ada di setiap langit malam, dimana setiap aku tidak berlomba mengumpulkan asap yang mematikan harapan dan menghalangi cahaya bintang. Aku bermimpi dimana dimensi ini hanyalah mimpi, dimana setiap aku tidak lagi harus membatasi mimpi karena tumpukan gunung batu egoisme semata.

Setiap ingatan menjadi mimpi semu, berlalu tanpa kembali dapat diingat. Setiap ikatan menjadi ilusi, berlalu tanpa ada jejak langkah yang dapat dikenang.

 

 

Save me from here, I’m dying..

Ask me for not give up today, tomorrow and ’til the end of my life sentence, until the stars grow cold and the light lose its shine, until part of me becomes one with the universe.

Today I may lose, but not with tomorrow..

 

*) credit poem: AmorFati (@AmoredFate)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: