Monthly Archives: November 2012

Aku Terbangun dan Kembali Tertidur

Ferris_wheel__Click_for_full__by_BumbleBeesh

Aku terbangun, dalam kehidupan nyata.
Tidak ada harapan dan mimpi, yang aku punya hanya hari ini.

Aku tertidur, dalam kematian semu.
Tidak tidak ada lagi hari ini, yang aku punya menjadi harapan dan mimpi.

Setiap malam sebelum memejamkan mata, isi dalam kepala ini menyarukan antara realita dan mimpi. Aku berharap hari yang kupunya pada detik ini tidak hilang dan menyatu dengan mimpi. Diri ini ingin memanggil kembali ingatan-ingatan yang terhapus, namun dayaku hanyalah seonggok pikiran dilapisi dengan daging dan tengkorak. Setiap ingatan bagai serbuk-serbuk emas yang terbang tertiup angin, aku hanya mampu mengambil seggengam, dua genggam, tiga genggam.. Tidak lebih. Hasratku ingin mengenggam dan memeluk sebanyaknya agar mereka tidak pergi meninggalkan aku sendiri.

Mungkin inilah yang diinginkan semesta, agar aku hanya menggenggam sebagian. Mejalani putaran hari-hariku sebagaimana seharusnya, mengingat apa yang perlu diingat dan melupakan apa yang seharusnya terlupakan. Membiarkan kenyataan menyatu dengan mimpi-mimpi.

Atau semesta ingin aku melepaskan semuanya dan memandangi emas-emas berterbangan di langit luas. Mengingatkanku agar melupakan segala apa yang kugenggam hari ini karena semuanya semu dan terbang bersama angin.

Bagaimana jika kenyataan ternyata hanyalah mimpi, dan aku hidup dari mimpi ke mimpi, tidak ada yang nyata. Bagaimana jika kenyataan adalah perspektif dari pikiran ini melihat kehidupan, dan kenyataan sesungguhnya tidak nyata?

Advertisements

Why can’t there just be good?

419235_10150647112777310_1264627348_n

Everyone is a good person — who has been programmed to act in a certain manner.

Why can’t there just be good?

Distance – Christina Perri (feat. Jason Mraz)

I wish we would just give up, ’cause the best part is falling. Call it anything but love.

Continue reading

Hidup Setelah Kematian

By: @agamajinasi
Made my tears fall like drops of rain. Post it here, a reminder to be brave.

———–

“Kemana kamu setelah mati?” Pertanyaan ini sepertinya jadi pertanyaan andalan kaum agama buat atheis.

Mereka pikir mereka punya sesuatu yang atheis tidak punya dan bangga dengan hal itu.

Saya tidak tau dengan kamu, tapi dulu saya memikirkan pertanyaan tersebut bertahun2.

Kalo kamu pikir saya tidak mau percaya ada kehidupan setelah kematian, kamu salah besar kawan.

Siapa sih yg gak mau menjalani hidup selamanya dengan orang2 yang kita kasihi?

Dan jujur, sebesar apapun keinginan saya tentang hal tersebut, saya lebih menginginkan memperoleh kebenaran.

Apa saya harus percaya kesaksian orang2 yg hampir mati? Maunya sih begitu. Tapi di tiap agama ada orang2 yang seperti itu.

Kalo di tiap agama ada kesaksian soal kematian, gak mungkin semuanya benar kan?

Pernah berdoa, berpuasa berkali-kali. Gak mungkin yang namanya tuhan gak kasih jawaban kan? Apalagi untuk urusan akhirat.

Beberapa kali pernah berpuasa, serasa mengarungi alam lain. Orang bilangnya dunia ruh, dimensi ke empat, alam gaib.

Setelah belajar fisiologi di kuliah baru sadar, siapapun yang puasa beberapa hari memang mengalami efek halusinasi.

Efek halusinasi yang mirip sewaktu orang mengkonsumsi mushrooms, cimeng, lsd atau ecstasy. Jadi apa bedanya?

Apa kamu pikir saya tidak takut, ketika mendapati semuanya ternyata hanya imajinasi belaka?

Continue reading

Unveil Me Completely

I wish, that you could see the real me
not hidden by the facade of a name, not concealed behind a locked heart.

Unveil me completely
There’s no need to mask my frailty
A perfect tapestry
Cause you see the real me
I just wanna be me
Wonderful, beautiful is what you see

Don’t be fooled by beauty, the light of the face comes from the candle of the spirit.

People are like stained-glass windows. They sparkle and shine when the sun is out, but when the darkness sets in, their true beauty is revealed only if there is a light from within.

 Elisabeth Kubler-Ross

Let it Rain

The best thing one can do when it’s raining, is to let it rain

Life is full of beauty. Notice it. Notice the bumble bee, the small child, and the smiling faces. Smell the rain, and feel the wind. Live your life to the fullest potential, and fight for your dreams.

– Ashley Smith –

Melepas Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati hanyalah fatamorgana, sesuatu yang tidak pernah nyata, tidak pernah ada, dia selalu menjauh setiap kali engkau sudah begitu dekat menggapainya. Kebahagiaan akan segera pergi dan mengilang ketika engkau sudah tersadar dari kemabukanmu. Hanya orang mabuk yang merasakan kebahagiaan sejati itu nyata, mereka membiarkan dirinya terikat dalam ilusi mimpi yang tidak pernah ada. Ketika ilusi mulai menghilang, kebahagiaan akan pergi dan meninggalkan engkau yang kehilangan.

Mabuk itu  nikmat, dan ketika dia pergi dalam kondisi sadarmu engkau akan bergidik mencarinya kembali, mencari sumber-sumber kebahagiaan itu datang kembali. Menyedihkan? Ya, menyedihkan. Aku sudah tidak mengenal kebahagiaan sejati lagi, dia sudah pergi. Karena pikiran ini selalu menjaga dirinya untuk tetap sadar.

Yang aku tahu sekarang ada rasa bahagia ketika disetiap senyum dan sapaan yang diberikan. Rasa bahagia di setiap tawa-tawa kecil yang terbagi. Rasa bahagia di tengah tawa terbahak sampai membuat air mata ini mengalir.

Yang aku tahu sekarang ada rasa bahagia ketika dalam keheningan. Rasa bahagia di setiap cerita tak bersuara. Rasa bahagia di tengah hembusan nafas kelegaan.

Yang  aku tahu sekarang ada rasa bahagia dalam setiap nyanyian. Rasa bahagia di setiap langkah lari kecil ini. Rasa bahagia di tengah lompatan perjalanan.

Yang aku tahu sekarang ada rasa bahagia dalam setiap ekspresi yang jujur. Rasa bahagia di setiap kebaikan yang disalurkan. Rasa bahagia di tengah pelukan yang tak sempat terbagi.

Mereka berkata akupun mabuk ilusi, tetapi aku berkata ada rasa bahagia dalam kesadaran, dalam realita, dalam setiap kebenaran yang ditemukan. Aku tidak mabuk, karena aku berani beranjak dan melangkah. Aku tidak mabuk, karena aku tidak takut melepaskan sumber-sumber kemabukan itu. Aku tidak mabuk, karena aku menatap setiap kemungkinan dan mendobrak semua batas untuk mencari jalan yang seharusnya. Aku tidak mabuk, karena aku tidak menutup mata hatiku dengan ketakutan akan kenyataan.

Beranikah dirimu?

Panggil aku, BANGSAT!

Aku membuka mataku, masih di sini, duduk di atas onggokan kardus bekas dengan seuntai kain membalut tubuhku. Ya, aku masih di sini dengan gelas kaleng andalanku yang kuletakan di depan tubuhku memohon belas kasihan orang-orang mampu memberikan koin-koin buangan yang tidak mereka butuhkan. Aku terbangun karena silaunya terik cahaya putih di pagi hari dengan bau busuk yang tidak mampu dihilangkan lagi, aku di sini duduk tak berdaya dengan kondisi tak berkaki.

Panggil aku bangsat, karena nama panggilan itulah yang selalu aku ingat sampai kini. Nama yang membuat aku kehilangan kedua kakiku, ya aku bangsat.

Di tengah hiruk pikuk lautan manusia, aku datang ke kota ini untuk membuktikan diri. Suara cerobong asap berlomba dengan degup jantungku yang kencang, menanti tantangan yang akan kuhadapi. Aku sangat gagah saat itu, sosok sempurna yang terakhir kali dapat kuingat. Kota laknat ini sudah memakan habis harga diriku dan daging-daging ditubuhku. Setiap hari aku berlomba dengan waktu dan suara di dalam perutku, mengandalkan pikiranku yang terbatas ini untuk berjuang hidup 1 hari lagi. Aku tidak dapat mengandalkan siapapun karena semua manusia sama bangsat-nya dengan diriku. Semua orang berfikir untuk dirinya sendiri dan berjuang untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Aku hebat dan jagoan, demikian pikirku, darah dan pukulan sudah menjadi cemilan sehari-hari. Hidup yang aku banggakan sekejap hilang, saat kaki ini sudah tidak ada lagi, semua ego dan kebanggaan-ku seolah ikut pergi.

Terakhir aku gegabah, aku bodoh, aku menyesali kebodohanku karena aku datang ke kota laknat ini. Mereka memukuli aku, sungguh mati aku sudah minta ampun berkali-kali, hanya karena aku mengambil uang di lahan parkir wilayah preman kampung itu dan dia meneriaki ku maling. Tubuh ini mati rasa, menyerah oleh banyaknya memar dan kekacauan orang-orang yang memukuli aku. Aku hanya mampu berteriak berkali-kali agar mereka menghentikan pukulan mereka. Kemudian polisi itu datang, ya polisi sialan itu, aku tidak akan lupa. Dia berteriak menanggilku bangsat kemudian menembaki kedua kakiku. Suara tembakan membuat telinga ini tuli, sekujur tubuh ini mati rasa. Aku terhipnotis oleh permainan pikiran membuatku terbang ke awang-awang. Continue reading

Ad Astra Per Aspera!

Ad Astra Per Aspera!

“A rough road leads to the stars”

Persimpangan

Sekarang, disinilah aku berdiri. Persimpangan..

Entah sudah berapa banyak persimpangan aku lewati. Melihat tanda, mencari jejak, mengumpulkan informasi, pada akhirnya aku harus memilih salah satu jalan.

Terkadang persimpangan membawa aku menemukan jalan buntu, membuat aku harus kembali menapaki jalan yang sudah aku lalui, kembali melihat jejak-jejakku yang tertinggal dan kembali tersenyum ketika segala rasa yang terlupa kembali memainkan melodinya. Kebingungan yang pernah aku alami sudah tidak seberapa lagi, sakitnya kaki melangkah sudah tidak seberapa lagi, luka dan goresan alam sudah tidak seberapa lagi, airmata keheningan sudah tidak seberapa lagi, letih dan keringat ini sudah tidak seberapa lagi. Jejak yang sama terkadang harus kembali dilalui, ini lebih baik dari sekedar berdiri termangu pada jalan yang buntu.

Continue reading