Panggil aku, BANGSAT!

Aku membuka mataku, masih di sini, duduk di atas onggokan kardus bekas dengan seuntai kain membalut tubuhku. Ya, aku masih di sini dengan gelas kaleng andalanku yang kuletakan di depan tubuhku memohon belas kasihan orang-orang mampu memberikan koin-koin buangan yang tidak mereka butuhkan. Aku terbangun karena silaunya terik cahaya putih di pagi hari dengan bau busuk yang tidak mampu dihilangkan lagi, aku di sini duduk tak berdaya dengan kondisi tak berkaki.

Panggil aku bangsat, karena nama panggilan itulah yang selalu aku ingat sampai kini. Nama yang membuat aku kehilangan kedua kakiku, ya aku bangsat.

Di tengah hiruk pikuk lautan manusia, aku datang ke kota ini untuk membuktikan diri. Suara cerobong asap berlomba dengan degup jantungku yang kencang, menanti tantangan yang akan kuhadapi. Aku sangat gagah saat itu, sosok sempurna yang terakhir kali dapat kuingat. Kota laknat ini sudah memakan habis harga diriku dan daging-daging ditubuhku. Setiap hari aku berlomba dengan waktu dan suara di dalam perutku, mengandalkan pikiranku yang terbatas ini untuk berjuang hidup 1 hari lagi. Aku tidak dapat mengandalkan siapapun karena semua manusia sama bangsat-nya dengan diriku. Semua orang berfikir untuk dirinya sendiri dan berjuang untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Aku hebat dan jagoan, demikian pikirku, darah dan pukulan sudah menjadi cemilan sehari-hari. Hidup yang aku banggakan sekejap hilang, saat kaki ini sudah tidak ada lagi, semua ego dan kebanggaan-ku seolah ikut pergi.

Terakhir aku gegabah, aku bodoh, aku menyesali kebodohanku karena aku datang ke kota laknat ini. Mereka memukuli aku, sungguh mati aku sudah minta ampun berkali-kali, hanya karena aku mengambil uang di lahan parkir wilayah preman kampung itu dan dia meneriaki ku maling. Tubuh ini mati rasa, menyerah oleh banyaknya memar dan kekacauan orang-orang yang memukuli aku. Aku hanya mampu berteriak berkali-kali agar mereka menghentikan pukulan mereka. Kemudian polisi itu datang, ya polisi sialan itu, aku tidak akan lupa. Dia berteriak menanggilku bangsat kemudian menembaki kedua kakiku. Suara tembakan membuat telinga ini tuli, sekujur tubuh ini mati rasa. Aku terhipnotis oleh permainan pikiran membuatku terbang ke awang-awang.

Aku berharap aku mati saja waktu itu, mereka sepertinya akan membiarkan diriku membusuk berhari-hari. Saat itu yang aku tahu, aku tak punya sepeser pun, aku tahu aku tidak mungkin diselamatkan. Mereka hanya akan menyelamatkan orang-orang berkantong tebal, kamu punya uang maka kamu berkuasa, jika kamu tidak memiliki uang kamu hanyalah seonggok daging hidup tanpa nama. Ya, dunia laknat jauh lebih berengsek dari diriku. Aku kehilangan kedua kakiku, dan mereka membuangku di jalanan.

Ini adalah hari tersialku. Kamu tahu hari sial? Dia dapat menimpa siapa saja, memilih tanpa alasan apapun agar seseorang menjadi sial, dilahirkan sial, dan hidup dalam kesialan. Di saat banyak orang berkata hidup adalah keberuntungan, hidupku adalah sebuah kesialan. Ketika mereka bilang mereka beruntung, mereka bersyukur sambil melihat aku yang duduk tanpa kaki. Ketika mereka berkata soal Tuhan dan menyembah Dia yang katanya Sang Pencipta, aku akan mengutuki Tuhan seumur hidupku karena Dia melahirkan aku dalam kesialan. Bagaimana bisa banyak orang hidup dalam kecukupan bahkan kemewahan, mengapa aku begitu sialnya harus lahir dan hidup berjuang setiap hari mengais recehan yang sudah tidak diinginkan mereka. Mereka bilang Tuhan punya rencana? Rencana bangsat! Cukup semua ocehan-ocehan busukmu mengenai Tuhan gilamu itu, karena Tuhan sudah mati, dibunuh oleh dunia ini. Pemikiran bodohmu mengenai Tuhanmu itulah membuat diriku merasa semakin sial. Ini bukan soal Tuhan, atau karena Tuhan, tetapi karena kebusukan dunia ini.

Tidak mungkin aku hidup dalam keluarga bahagia berkecukupan karena aku sudah di sini. Tidak mungkin aku hidup dan mampu sekolah seperti anak-anak itu yang selalu lewat di depan jalanku dengan tawa riang mereka berlarian membawa jajanan sirup, karena aku sudah di sini. Tidak mungkin aku kembali  mengulang waktu, karena semua yang terjadi sudah seharusnya akan terjadi. Ketika sedari awal kamu sudah tidak dapat memilih bagaimana kamu dilahirkan, apa yang membuat kamu berfikir kamu dapat memilih bagaimana kamu hidup sekarang?

Terkadang semua memori sudah tidak dapat kuingat lagi, sulit dijelaskan, bagaimana aku di sini pada hari ini, dan tetap akan di sini pada malam ini. Aku tidak dapat menahan rasa sakit hati ini, aku sudah tidak bisa. Mengapa kesialan ini menimpa aku?  Apa bedanya aku mati hari ini dengan aku mati besok, kapanpun itu sama saja. Tetapi aku terlalu pengecut untuk mati. Aku muak, aku berteriak disetiap kesunyian malam tapi tidak ada yang mendengar aku, tidak ada yang melihat aku, tidak ada yang tahu siapa aku.

Bisakah aku lahir kembali dengan keadaan yang lebih baik? Bolehkah aku mengecap sedikit kebahagiaan saja? Terlalu serakahkah dirimu untuk membaginya sedikit untukku? Sedikit kenikmatan dari makanan mewahmu? Sedikit kehangatan dari pakaian bagusmu? Sedikit kenyamanan dari mobil mahalmu? Atau sedikit penghiburan dari gadget canggih milikmu?

Atau jika hal tersebut terlalu berharga bagimu untuk kau bagi, bolehkah aku mendapatkan sedikit kenikmatan dari senyumanmu? Sedikit kehangatan dari pelukanmu? Sedikit kenyamanan dari penerimaanmu? Sedikit penghiburan dari cerita-ceritamu?

Sakit, semua ini menyakitkan.. Andai aku bisa berlari dan menghilang, sebagaimana aku tenggelam perlahan dan terlupakan oleh dunia ini.

Advertisements

3 thoughts on “Panggil aku, BANGSAT!

  1. Bangsat lu! Tulisannya keren~ XD

  2. eko lazuardi says:

    kenyataan yg benar2 ada.ilustrasi yg menggambarkan apa yg telah dan sedang gw alami…bertahan di dunia BANGSAT!!

  3. DIDI WIWIARDI says:

    TUHAN MEMANG BANGSAT!!! GAK PERNAH ADIL!! GAK PERNAH PEDULI!! ORANG MISKIN KELAPARAN GAK BISA MAKAN DIBIARKAN MATI BEGITU SAJA!! SEDANGKAN ORANG KAYA PESTA PORA , NGESEKS BEBAS, MAIN JUDI HAMBUR HAMBURIN DUIT MALAH DIBERKATI OLEH TUHAN!! SUDAH SAATNYA KITA MENJADI ORANG KOMUNIS DAN MEMBASMI SEMUA AGAMA!! KITA JUNGKIR BALIKAN TATANAN HIDUP YANG TIDAK ADIL INI !! KITA LAWAN KAUM KAPITALIS DAN AGAMAWAN ANJING BEDEBAH YANG DIBERKATI OLEH TUHAN!! KITA GULUNG MEREKA DALAM BADAI AMARAH REVOLUSI SEPERTI YANG PERNAH DILAKUKAN PADA MASA REVOLUSI PERANCIS!! KITA GANTUNG!! KITA BAKAR!! KITA PANCUNG ORANG2 KAYA DAN KAUM AGAMAWAN!! KITA BUAT DUNIA INI MEMIHAK KEPADA KITA ORANG2 MISKIN DAN TERANIAYA!! HIDUP KOMUNIS!! GANYANG TUHAN!! GANYANG AGAMA!! GANYANG ULAMA!! GANYANG PENDETA!! GANYANG BIKSU!!
    BY : DIDI WIWIARDI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: