Persimpangan

Sekarang, disinilah aku berdiri. Persimpangan..

Entah sudah berapa banyak persimpangan aku lewati. Melihat tanda, mencari jejak, mengumpulkan informasi, pada akhirnya aku harus memilih salah satu jalan.

Terkadang persimpangan membawa aku menemukan jalan buntu, membuat aku harus kembali menapaki jalan yang sudah aku lalui, kembali melihat jejak-jejakku yang tertinggal dan kembali tersenyum ketika segala rasa yang terlupa kembali memainkan melodinya. Kebingungan yang pernah aku alami sudah tidak seberapa lagi, sakitnya kaki melangkah sudah tidak seberapa lagi, luka dan goresan alam sudah tidak seberapa lagi, airmata keheningan sudah tidak seberapa lagi, letih dan keringat ini sudah tidak seberapa lagi. Jejak yang sama terkadang harus kembali dilalui, ini lebih baik dari sekedar berdiri termangu pada jalan yang buntu.

Terkadang persimpangan membawa aku ke jalan yang panjang, nampak tak berujung. Semakin aku meninggalkan jejakku keraguan semakin datang dan keputus-asaan memanggil. Jalan panjang ini tidak mengijinkan aku kembali, karena jalan ini memang harus dilalui. Membiarkan suara dedaunan menghibur aku, mengijinkan angin berlari bersamaku, membawa diri menari dengan kupu-kupu, memberikan nyanyian pagi bersama burung-burung.

Terkadang persimpangan membawa aku pada jalan yang menanjak, terjal dan berbatu. Tidak cukup dengan keringat namun luka dan goresan selalu menemani. Dalam setiap perjalanan aku sudah banyak memberikan diri ini terluka oleh alam, luka ini akan segera hilang sebagaimana luka-luka lainnya. Terkadang ia meninggalkan gores, terkadang ia hilang tak berbekas. Jejak luka yang tidak dapat hilang kembali akan memberiku senyum, air mata? Tidak, jangan.. Untuk apa melukai kembali lukamu dengan airmata?

Terkadang persimpangan membawa aku kepada jalan yang menurun. Jalan yang menurun mempercepat langkahku, hanya aku memerlukan kaki yang sedikit lebih kuat untuk menahan beban tubuh ini. Atau aku bisa memerosokan diri, membiarkan tubuh ini dengan sedikit memar, mempercepat degup jantung, tapi lihat.. Aku dapat sampai kepada persimpangan berikutnya dengan segera.

Terkadang persimpangan membuat aku terdiam.. Seperti sekarang ini, disinilah aku berdiri, persimpangan..

Terkadang tak cukup satu tanda, untuk membuatku melangkah. Terkadang tak cukup sekali matahari terbenam untuk membuat kaki ini yakin memilih. Terkadang tak cukup petunjuk untuk memberikan jiwa ini keberanian.

Aku hanya ingin bernafas sekali lagi, untuk mengecap sedikit kebahagiaan dan kesedihan lagi.

Biarkan aku bernafas sekali lagi, tertawa sedikit lagi, menangis sedikit lagi, hidup sebentar lagi.

Ijinkan aku bernapas sekali lagi, menghadapi hari ini sebentar lagi dan melupakan sejenak semua yg sudah terlalui.

Temani aku bernafas sekali lagi, aku ingin berharap sekali lagi dan melangkah setapak lagi.

Sekarang, disinilah aku.. Persimpangan..
Duduk terdiam untuk bernafas sekali lagi..

Mencari dirimu, ada dimana?

Advertisements

One thought on “Persimpangan

  1. persimpangan…

    atau dengan kata lain sebuah “pilihan”

    kita selalu saja bingung, bete, bahkan kesal untuk menghadapinya, tapi sadar atau tidak sebuah pilihan dihadirkan agar kita bisa lebih belajar… ya.. belajar untuk tidak serakah, atau belajar untuk lebih bijak dalam memilih…

    simple, jika tidak mau bertemu persimpangan, maka akhirilah jalanmu (mati), karena memang hidup cuma berbicara soal itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: