Hidup Setelah Kematian

By: @agamajinasi
Made my tears fall like drops of rain. Post it here, a reminder to be brave.

———–

“Kemana kamu setelah mati?” Pertanyaan ini sepertinya jadi pertanyaan andalan kaum agama buat atheis.

Mereka pikir mereka punya sesuatu yang atheis tidak punya dan bangga dengan hal itu.

Saya tidak tau dengan kamu, tapi dulu saya memikirkan pertanyaan tersebut bertahun2.

Kalo kamu pikir saya tidak mau percaya ada kehidupan setelah kematian, kamu salah besar kawan.

Siapa sih yg gak mau menjalani hidup selamanya dengan orang2 yang kita kasihi?

Dan jujur, sebesar apapun keinginan saya tentang hal tersebut, saya lebih menginginkan memperoleh kebenaran.

Apa saya harus percaya kesaksian orang2 yg hampir mati? Maunya sih begitu. Tapi di tiap agama ada orang2 yang seperti itu.

Kalo di tiap agama ada kesaksian soal kematian, gak mungkin semuanya benar kan?

Pernah berdoa, berpuasa berkali-kali. Gak mungkin yang namanya tuhan gak kasih jawaban kan? Apalagi untuk urusan akhirat.

Beberapa kali pernah berpuasa, serasa mengarungi alam lain. Orang bilangnya dunia ruh, dimensi ke empat, alam gaib.

Setelah belajar fisiologi di kuliah baru sadar, siapapun yang puasa beberapa hari memang mengalami efek halusinasi.

Efek halusinasi yang mirip sewaktu orang mengkonsumsi mushrooms, cimeng, lsd atau ecstasy. Jadi apa bedanya?

Apa kamu pikir saya tidak takut, ketika mendapati semuanya ternyata hanya imajinasi belaka?

Saya takut sekali, kawan. Bukan hanya takut. Tapi limbung; mendapati semua yang saya imani tampaknya seperti kesia-siaan.

Bahkan ketakutan saya rasanya jauh lebih besar daripada ketakutan seseorang yg mendapati ortunya bukan ortu biologis dia.

Saya mengerti arah pertanyaan2 dari orang2 soal tujuan hidup, soal kematian, soal kehidupan setelah kematian.

Karena hal2 tersebut dulu saya pertanyakan juga, bahkan saya alami. Jadi kalo coba utk bikin saya tobat, tolong pikirkan lagi.

Jadi apa yg harus saya lakukan selanjutnya? Terjebak dalam nihilisme, bagaikan terjebak dalam mimpi2 di film Inception?

Atau harus berani melangkah, walaupun itu artinya banyak paradigma yang harus berguguran setelah dibangun bertahun-tahun?

Di poin itu saya udah gak peduli kata orang. Mau dibilang sok anti mainstream, sok tampil beda, sok pinter, silakan.

Ini bukan lagi ngomongin identitas saya di mata orang lain, tapi udah masa depan saya sendiri. It’s so personal.

“Jadi kalo semuanya itu gak ada, kenapa gak mati aja lo?” Sabar kawan, itu juga pertanyaan saya.

Dan dari pertanyaan tersebut saya akhirnya sadar, atheis ternyata lebih beriman dari theis.

Lah kok bisa? Bukannya atheis sama sekali gak punya iman? Kenapa bisa dibilang lebih beriman?

Sekarang jawab jujur, mana yg lebih mudah ngerjainnya, ngerjain sesuatu dengan imbalan, atau tanpa imbalan?

Terlepas dari imbalannya nyata atau palsu, ngerjain sesuatu dengan dijanjiin imbalan tentunya mudah.

Atheis menjalani hidup itu artinya masih ada orang-orang yg mau ngerjain sesuatu tanpa dikasih imbalan sama sekali.

Ketika kamu masih ngomongin surga, dan pahala, ada orang-orang di luar sana yg sudah berhenti memikirkan semuanya itu.

Ketika kamu masih ngomongin sorga dan pahala, ada orang-orang di luar sana yg menganggap hidup sekarang ini adalah surga dan pahala.

Ketika kamu ngerjain sesuatu karena berharap imbalan, ada orang-orang di luar sana yg tau berbuat baik adalah kesempatan sebelum mati.

Ketika kamu anggap memorimu bisa dilanjutkan setelah mati, ada orang2 di luar sana yang menghargai memori sebagai pahala hidup.

Jadi kawan, saya atheis karena menghargai hidup. Yang sekali berarti setelah itu mati.

Pernah denger lagu “Memory”? Dulu waktu jadi theis saya cuma anggap lagu ini bagus, tapi gak ada yg special di liriknya.

Sejak saya menyadari harus menjalani hidup yang sekali ini setelah itu sirna tanpa jejak, saya sering nangis dengernya.

Dengerin lagunya deh, dan tersenyumlah bersama saya :) https://t.co/I6bmRi00

Yes, we respect our memories so much that no promises of afterlife could replace them.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: