Saat Bahagia itu Sederhana

Cotton-Candy copy

Aku masih ingat betapa senangnya aku berdiri di barisan bersama dengan teman-teman yang lain, kami menunggu susu coklat dingin yang ditaruh pada cup kecil, rasanya sangat enak berbeda dengan susu yang biasa dibuatkan oleh mamaku. Aku tersenyum lebar menenggak susu coklat dingin dan selalu merasa kurang. Kegirangan dan tawa, bukan karena rasa susu coklat dingin itu begitu enak, bukan. Tapi rasa dan pengharapan akan hal-hal biasa. Saat bahagia itu sederhana.

Ketika bel berbunyi kami semua berlarian, menuju jalan surga di depan pintu gerbang, ya jalan dengan sederet makanan dan mainan, dimana aku harus memilih salah satu diantaranya, karena mamaku hanya memberikan selembar uang bertuliskan angka satu dengan 3 buah angka nol. Gula-gula kapas yang bergulung dan semakin membesar, bola-bola rasa ikan goreng dengan saus merahnya, es serut yang dibentuk dengan sirup warna merah, hijau dan coklatnya. Ada juga penjual gula-gula memperagakan bagaimana cara membuat gula-gula berbentuk empeng, ikan, senjata ataupun bentuk-bentuk lainnya, rasanya sangat manis, warna hijau tua dan merah jingga yang kini tidak menarik dahulu terlihat begitu berbinar. Atau aku bisa membeli lembaran kertas yang dapat disobek sesuai bentuknya, orang-orangan lengkap dengan baju-baju dan asesoris dari kertas. Aku masih menyimpan kue dari mamaku, berbentuk beruang dan ikan dengan tiga warna; merah muda, hijau dan putih, sedari pagi belum aku makan. Aku ingin memakannya di rumah, mencabut warnanya satu-persatu sampai warnanya habis kemudian melahap bagian putihnya. Menyenangkan. Semuanya begitu memukau, bukan karena rasanya luar biasa, bukan. Tetapi saat itu diri ini tidak pernah memikirkan ego ataupun menimbang harga dari segala sesuatunya. Aku memejamkan mataku dan mengingat kembali suasana surgawi yang pernah tersimpan dalam memori ini, aku masih bisa mencium keharuman buih-buih semerbak jalanan surga itu. Saat bahagia itu sederhana.

Mengenang setiap detail yang dapat aku kenang; ketika aku sangat suka bermain lompat tali, congklak, bekel, galaxin atau gerobak sodor, benteng, permainan donal bebek injak-injakan kaki, petak umpet, domikado. Permainan-permainan itu bisa membuat tawa ini begitu lebar, terkadang aku mendapatkan luka dari permainan-permainan itu, tetapi lukanya tidak pernah menusuk sampai ke dalam hati ini. Masih teringat ketika aku mengambil kembali buku bergambar hello kitty yang sudah usang, isinya tulisan teman-temanku, biodata, dan tulisan-tulisan norak lainnya seperti kata kenangan, kata mutiara, hiasan-hiasan foto, semuanya begitu konyol. Belum lagi di tambah lipatan diujung kertasnya, lalu lantangnya tulisan “Jangan dibuka!” tertera di sana, padahal semua orang akan membukanya. Senyum ini merekah dan mata ini berbinar akan kekonyolan masa lalu. Sejak kapankah kebahagiaan dan kegirangan yang seperti ini menghilang?

Setiap dari serpihan diri memiliki ceritanya masing-masing, cerita yang terkenang dan tertanam dalam lembaran ingatan. Cerita yang membuat diri ini bergejolak rindu, berbalut sendu dan membuat mata ini memproduksi gumpalan-gumpalan air dan membasahinya. Tawa yang kupunya tawa sederhana dan  tangisan yang kupunya tangisan sederhana. Tetapi tapak kaki ini tidak akan pernah bisa kembali, ke masa dimana saat bahagia itu sederhana.

Advertisements

One thought on “Saat Bahagia itu Sederhana

  1. kebahagiaan juga kena inflasi.. dulu begitu murah sekarang kenapa susah amat syaratnya…????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: