Monthly Archives: May 2013

Menyengapkan Rindu

And my eyes are screaming for the sight of you
And tonight I’m dreaming of all the things that we’ve been through
And I can’t hold on to you, so I guess I feel lonely too

………………………………..

Bagaimanakah menyengapkan rasa rindu jika ia selalu terjaga dan tak pernah tertidur ataupun pergi meninggalkanku? Aku menyembunyikannya dibalik kegelapan malam hingga dinding-dinding di ruangan ini bertanya-tanya, namun dia tetap di sana. Aku membagikannya kepada langit dan kepada semesta, segenggam demi segenggam berharap perlahan kemudian dia menghilang, namun dia tetap di sana. Aku mengacuhkannya dengan tawa, cerita dan senyuman, agar dia kemudian kesepian dan pergi meninggalkan aku, namun dia tetap ada di sana. Aku memberikannya air mata dan melepaskan genggaman tangan ini agar dia pergi, namun dia tetap ada dan diam di sana.

Adakah curahan yang belum engkau utarakan, pelukan yang  belum engkau sampaikan, kehangatan yang belum engkau rengkuh? Adakah matamu berteriak, tubuhmu meringis kedinginan, setiap sel tubuhmu bergejolak mencari bayangan yang tidak pernah kau temukan?

Rindu, mengapa engkau tetap diam di sana, duduk sendiri di sudut kegelapan hati ini dan enggan untuk pergi?

Setiap hari, aku hanya mampu memelukmu dan berbisik agar dirimu dapat bertahan satu hari lagi, menunggu waktu dan menunggu setiap keping hati ini membentuk dirinya yang baru, sehingga engkau bisa perlahan menghilang dan terbebas pergi. Di masa itu akulah yang akan merindukanmu dan mencari dirimu yang sudah menghilang tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Advertisements

Shadow

No matter how much you want to run, the shadow will always follow.
They’ll disappear at night, when days come they shown again.

Writing

letter

“Writing can heal wounds of the soul.”

Human Brains Are Built to Fall in Love

What do your dainty eyeteeth mean for your love life?

Human behavior varies a lot. As compared with other primates, we’re heavily influenced by culture, religion, family upbringing, and so forth. As a consequence, it’s logical to conclude that our fitful monogamy is purely culturally induced and not instinctual. (On the other hand, we readily seem to accept that promiscuous tendencies are wired into our brains.)

In fact, we are programmed to pair bond—just as we’re programmed to add notches to our belts. By programmed, I mean that our brains are set up so that we engage in these behaviors with a lower threshold of enticement than we would otherwise. Both these programs serve our genes, as does the tension between them. For example, on average, we stay bonded long enough to fall in love with a kid, who then benefits from two caregivers. Then we may easily grow restless and seek out novel genes in the form of another partner. Italian research, for example, reveals that our racy “honeymoon neurochemistry” typically wears off within two years.

Pair bonding is not simply a learned behavior. If there weren’t neural correlates behind this behavior, there would not be so much falling in love and pairing up across so many cultures. The pair-bonding urge is built-in and waiting to be activated, much like the program that bonds infants with caregivers. In fact, these two programs arise in overlapping parts of the brain and employ the same neurochemicals.* The Coolidge Effect (that sneaky tendency to habituate to a familiar sex partner and yearn for a novel one) is also a program. The fact that these programs often dominate one another doesn’t alter the fact they both influence us.

Continue reading

Alone Journey

704221238337490

“Anything we fully do is an alone journey.”― Natalie Goldberg

Kamu

Malam ini aku melihat bintang, sinar itu terbang sepintas dan kemudian pergi menghilang. Kemanakah engkau pergi, bintang? Adakah dunia yang lebih baik di balik selimut langit malam yang menutupi dunia yang abu-abu ini? Mungkin ini masamu untuk pergi, seperti bintang lain yang diam di langit sana, yang hanya pergi jika belahan bumi menepi dari masa berputarnya, dan menunggu masanya. Coretan ini bukan soal kelabunya langit malam karena satu bintang telah pergi, namun aku ingin mengingat kamu, sebelum ingatan ini kembali memainkan permainan cantiknya, menyembunyikan kenangan dan kemudian membawanya pergi dan tak mampu diingat lagi.

Aku ingin menuliskan soal kamu, seorang kesatria dalam dongeng, kesatria dari masa yang berbeda. Bukan karena salah jaman ini, bukan, ini hanyalah kesalahan dari gelombang kepastian yang telah menetapkan masa dan kejadian semaunya. Aku berharap bisa menghadirkan senyum dalam tangis kering malammu, ketika kamu merasa tenggelam dalam kesendirian perjuangan yang melelahkan pikiranmu. Mungkin inilah masamu, masa untuk selalu diingat dalam setiap hati yang tertolong.

Aku ingin menuliskan soal kamu, seorang yang hebat dan dikagumi, kamu yang mereka sebut sebagai pahlawan, ya pahlawan untuk hidup mereka dan juga hidupku. Pahlawan yang tertatih dalam dua dunia yang tidak bersahabat, pahlawan dengan senyum hangat dan pemikiran hebat. Mungkin mereka sebut aku ini beruntung karena engkau mengijinkan aku menjadi saksi akan perjalananmu dan juga saksi dari tangis airmatamu.

Aku ingin menuliskan soal kamu, seorang yang pernah mengisi hari-hariku dengan tawa dan senyuman, dengan rajutan cerita demi cerita, yang indah untuk dikenang. Manis, hangat dan berwarna.

Aku ingin menuliskan soal kamu, …

 

 

Aku ingin menuliskan soal kamu, karena seharusnya tulisan ini menjadi cerita yang bergulir tak berujung, karena begitu banyak cerita yang berputar dalam alam pikiran ini. Tapi jari-jari ini seolah terkaku dan berhenti mengerakkan sendi-sendinya, mungkin mereka malu atau mereka sedang menangis..

Grow Old With You – Adam Sandler

It could be so nice, growing old with you..