Bilur-bilur Airmata

Aren’t you something to admire,
’cause your shine is something like a mirror

And I can’t help but notice, you reflect in this heart of mine
If you ever feel alone and the glare makes me hard to find
Just know that I’m always parallel on the other side

…………….

Please don’t cry, just because we had to part.
As long as you remember me, I’ll live in your heart.

Do not let your tears fall, for I cannot wipe them all.
I can feel all your pain. So much that, I’m to blame.

…………….

Tetesan air terasa hangat jatuh menyentuh lapisan indra peraba ini, bibirmu bergetar seolah ia tak mampu berucap dan baris demi baris suara hati seolah tertahan enggan untuk mengalir keluar batas liang udara. Tangan ini merasakan perihnya tetesan bilur-bilur dari matamu saat ia menyentuhnya, gumpalan setiap gumpalan menyimpan cerita kelabu dari degup hati yang tak pernah terucap. Hati yang selalu kuat dan penuh dengan warna mungkin sudah tidak mampu menampung gumpalan perih yang telah bersekongkol, sehingga membiarkan mereka menumpahkan diri enggan untuk bertahan lagi.

Bilur-bilur air dari mata yang menyimpan banyak cerita sendu, maafkan aku tidak mampu mengikuti langkahmu. Konstelasi neuron di dalam kepala ini beranjak melarikan diri karena ia hanyalah organ rapuh yang butuh untuk tidak disakiti. Sekalipun neuron-neuron di kepala ini memiliki kekuatan untuk bertahan, namun ia tetap tidak mampu menolak dari rasa sakit. Sama seperti sakit dan perihnya airmatamu yang berjatuhan dan menolak untuk berhenti mengalir.

Getaran suara dari bibir yang menyimpan banyak cerita hati, maafkan aku tidak mampu mengisi kesendirianmu nanti. Mungkin waktulah yang sepatutnya disalahkan karena ia telah mempertemukan dua hati di masa yang tidak sejalan. Biarkanlah bayangan dari kenangan hitam dan putih yang menari bersama, dan masing-masing kita berjalan bersama di parallel yang berbeda.

Cerita kelabu dari degup hati yang tak pernah terucap, maafkan aku yang tidak mampu mendengar bisikan cerita dan tangisan hati.. lagi.. Sesakmu itu, sesakku juga. Dirimu seperti bayangan diriku, yang berdiri dihadapanku saat ini, mengulurkan tangannya untuk saling menggapai namun batas ego dan mimpi seperti kegelapan yang menghalangi.

Menangislah sekarang namun jangan menangis kemudian, bukankah kau berjanji mengantarkan langkahku pergi dengan senyuman? Ceritakanlah kegetiranmu sekarang namun jangan lagi hatimu bergetir kemudian, karena realita adalah hidup di masa sekarang dimana kakimu berpijak. Genggamlah kebahagianmu sekarang dan lepaskanlah kemudian, karena demikianlah seharusnya kebahagiaan, mengambil sebagian dan mengorbankan sebagian, karena ia hanyalah ilusi egoisme semata dan ia hanyalah ilusi putaran biologis yang tidak nyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: