Monthly Archives: February 2014

Hi …,

Advertisements

Merajut Cerita

20140224-223713.jpg

So many people become songs and poetry
But will never know;
Our world is full of the ghosts
Of unspoken words and memories.

 

Susunan cerita seolah terpenjara dalam bias krotikal di dalam pusat sistem memori ini, setiap aku hendak merangkai kata untukmu pikiranku terkaku dan diam seolah ia tidak dengan rela hati melepaskannya. Mungkin ia mengerti kalau aku ingin terus menyimpan cerita ini dan tidak mau melupakannya sehingga ia bersembunyi dan mengunci dirinya di dalam pusat amigdala sehingga ia tidak akan pernah hilang. Namun persembunyiannya membuat aku tidak bisa mendapatkan dirinya lagi, ia menghilang dah tidak dapat ditemukan. Aku mencarinya sampai terkadang membuatku pedih, aku hanya mampu menikmati sisa-sisa dirinya yang sesekali muncul dan membuatku tersenyum dengan cerita manis tersamar.

Apakah aku memang harus berhenti menulis susunan cerita tentang dirimu? Apakah aku harus mengais cerita dari catatan masa lalu? Apakah sudah waktuku untuk berhenti berduka dan melepaskannya untuk berlalu?

Diri ini hanya seonggok ego yang terkadang tidak berotak, membenturkan dirinya hanya untuk diberikan kekenyangan. Menilik peristiwa dan menelurusi cerita, hanya untuk membuat ego ini kembali terluka, menangis dan kemudian dirajut kembali. Bodoh..

Lembaran hari yang terlalui bersamamu sudah cukup membuatku tersenyum dan bahagia, sesalanku hanyalah karena aku tidak cukup mengucapkan banyak kata terima kasih dan kata sayang untukmu, bahkan tidak cukup untuk membuatmu mempercayai kata-kata tersebut dari mulutku.

Entah sampai langit dan bintang-bintang berputar dan saling bergeseran untuk yang ke berapa kalinya, gulungan isi torehan cerita ini mungkin sudah bukan mengenai dirimu lagi, ketika aku sudah kehilangan ingatan cerita dan rangkaian kata, ketika langkah kaki ini sudah tidak mampu untuk kembali, ketika raga ini menuruti bayanganmu yang selalu hadir untuk terus menyuruhku pergi dan membiarkanmu bahagia.

 

Terima kasih, sayang..

Bitter

“There’s a lot of things that we all wish we could have done differently, but if you spend too much of your life trying to change the past, your biggest regret will be that you spent your life wishing to change a ‘done’ past, when you could have been changing unwritten present and future.”

20140223-230647.jpg

The Mystery of Consciousness

By STEVEN PINKER
Thanks to Marc Epard for alerting us.

The young women had survived the car crash, after a fashion. In the five months since parts of her brain had been crushed, she could open her eyes but didn’t respond to sights, sounds or jabs. In the jargon of neurology, she was judged to be in a persistent vegetative state. In crueler everyday language, she was a vegetable.

So picture the astonishment of British and Belgian scientists as they scanned her brain using a kind of MRI that detects blood flow to active parts of the brain. When they recited sentences, the parts involved in language lit up. When they asked her to imagine visiting the rooms of her house, the parts involved in navigating space and recognizing places ramped up. And when they asked her to imagine playing tennis, the regions that trigger motion joined in. Indeed, her scans were barely different from those of healthy volunteers. The woman, it appears, had glimmerings of consciousness.

Try to comprehend what it is like to be that woman. Do you appreciate the words and caresses of your distraught family while racked with frustration at your inability to reassure them that they are getting through? Or do you drift in a haze, springing to life with a concrete thought when a voice prods you, only to slip back into blankness? If we could experience this existence, would we prefer it to death? And if these questions have answers, would they change our policies toward unresponsive patients–making the Terri Schiavo case look like child’s play?

The report of this unusual case last September was just the latest shock from a bracing new field, the science of consciousness. Questions once confined to theological speculations and late-night dorm-room bull sessions are now at the forefront of cognitive neuroscience. With some problems, a modicum of consensus has taken shape. With others, the puzzlement is so deep that they may never be resolved. Some of our deepest convictions about what it means to be human have been shaken.

It shouldn’t be surprising that research on consciousness is alternately exhilarating and disturbing. No other topic is like it. As RenĂ© Descartes noted, our own consciousness is the most indubitable thing there is. The major religions locate it in a soul that survives the body’s death to receive its just deserts or to meld into a global mind. For each of us, consciousness is life itself, the reason Woody Allen said, “I don’t want to achieve immortality through my work. I want to achieve it by not dying.” And the conviction that other people can suffer and flourish as each of us does is the essence of empathy and the foundation of morality.

To make scientific headway in a topic as tangled as consciousness, it helps to clear away some red herrings. Consciousness surely does not depend on language. Babies, many animals and patients robbed of speech by brain damage are not insensate robots; they have reactions like ours that indicate that someone’s home. Nor can consciousness be equated with self-awareness. At times we have all lost ourselves in music, exercise or sensual pleasure, but that is different from being knocked out cold.
Continue reading

Twisted

You don’t listen to her, you don’t care how it hurts
Until you lose the one you wanted
‘Cause you’re taking her for granted
And everything you had got destroyed

But you’re just a boy, you don’t understand

 

Often I said, what if you were in my shoes? I wish the situation were twisted just like this..

 

Continue reading

Ordinary Life – Simple Plan

What happened to the someday
What happened to the dreams of a wide-eyed kid

Continue reading

You Are Already A Good Man

20140215-124023.jpg

Torehan kata untuk apa yang akan kutuliskan adalah untuk dirimu, begitu banyak hal berharga yang tidak sempat terucapkan, begitu sayang jika menjadi beku dalam peti dingin berdebu dan tak tersampaikan. Semoga tulisan ini bisa membentuk simpul dibibirmu.

Untuk kamu dan semua pria di dunia..

Aku belajar bahwa menjadi seorang pria bukan soal menjadi seperti apa yang dunia ingin bentuk, menjadi seorang pria bukan berarti menjadi seseorang yang memenuhi semua syarat yang aku atau sekelilingku mau, menjadi seorang pria tidak sederhana dan dangkal.

Aku belajar bahwa menjadi seorang pria itu berbeda, bukan karena kulit yang lebih kasar, bulu yang lebih banyak, atau mempunyai batang kemaluan yang tidak aku miliki. Aku belajar bahwa menjadi seorang pria itu sulit bagimu, dan aku tidak akan bisa mengerti sepenuhnya.

Aku belajar bahwa dunia akan selalu melihatmu dengan legitimasi hitam dan putih, penjahat dan pahlawan, dan tidak ada toleransi keabu-abuan, walaupun kamu merasa tidak seharusnya demikian.

Aku belajar bahwa menjadi seseorang yang kuat adalah hal yang setiap hari berusaha kamu lakukan, sesuatu yang tidak bisa kamu tinggalkan, walaupun terkadang melukaimu, menyakiti hatimu atau meninggalkan bekas luka perih dan airmata.

Aku belajar bahwa separuh dari dunia ini menganggap kamu adalah penjahat kelamin, seorang yang idiot dan tempramental.

Aku belajar bahwa menjadi pria berarti menjadi seseorang yang berjuang seumur hidup untuk melepaskan diri dari pihak yang akan selalu disalahkan. Berjuang untuk dilihat sebagai pria, sebagai manusia, sebagai pribadi. Menjadi pria berarti berjuang menawan stereotype yang sudah berakar.

Aku belajar bahwa menjadi pria berarti menjadi seseorang yang selalu mempunyai ide, mempunyai jalan, dan mempunyai mimpi.

Continue reading

It’s Human

In the end, your tolerance, trust, understanding and respect are nothing.

You think you know someone
and then they are suddenly a stranger to you.

In the end, you know nothing. It’s life.

Five for Fighting – What If

What if I had your heart? What if you wore my scars?
What if I told your lies? What if you cried with my eyes?
What if you were me and what if I were you?

What if your hand was my hand?
Could we hold on or let go?

Continue reading

Fragment

Kosong…

Sudah beberapa hari aku terdiam, hanya menatap ruangan kosong tanpa warna warni potongan kenangan. Kosong…

Sudah berapa lama aku di sini, aku bahkan mungkin sudah tidak ingat lagi. Di sini yang aku lihat hanya kekosongan, terkadang pandangan ini buram, samar oleh bayangan gumpalan fragment-fragment dari proses lakrimasi dan aku hanya perlu memejamkan mata ini sebentar agar aku dapat melihat jelas kembali kekosongan yang ada dihadapanku.

Aku ingin mengisi kekosongan ini dengan luapan kemarahan, merasakan kembali emosi yang tertahan oleh superego sedemikian teredam hingga hanya dapat dirasakan oleh tangan dan kaki ini yang tak kasat bergetar. Aku ingin mengisi kekosongan ini dengan ketakutan, melihat kaki ini bergerak pergi menjauh, tanpa arah dan membiarkannya bertanya pada bayangan semu tak berjawab. Aku ingin mengisi kekosongan ini dengan torehan tulisan, agar semua orang dapat mengerti tanpa membenci, agar semua orang tahu dan melepaskan tangannya untuk aku.

Aku ingin mengingat semua luka dan air mata yang terjatuh di perjalanan kekosongan ini agar aku tidak pernah lagi memikirkan untuk kembali.