Monthly Archives: March 2014

The Single Life We Have

20140309-140123.jpg

It’s odd, thinking about death while being an atheist. To understand that afterward, you are simply not.

Dawkins and Hitchens both know that what is coming is permanent. There is no happy ending, with no chance of reunion or redemption in some other plane. Death will be a final parting, permanent and absolute.

In that embrace, it’s not just that Hitchens means a great deal to Dawkins. It’s knowing that soon, they’ll be separated by eternity. And yet, in infinite time and space, two motes of consciousness, against unfathomable odds, simply had the opportunity to enjoy a brief lucidity of life and touch each other in some small way before returning forever to the endless naught.

Honestly, there is absolutely nothing more important than the realization that this life, the single life we have, is all and everything that we will ever have; when it’s over, it’s over. In a way, it gives life more sanctity and meaning than any religion could dream.

Advertisements

Hai, Apa Kabarmu?

20140308-233531.jpg

I guess it’s gonna have to hurt,
I guess I’m gonna have to cry.
And let go of some things I’ve loved,
To get to the other side.
I guess it’s gonna break me down,
Like falling when you try to fly.
It’s sad, but sometimes moving on with the rest of your life…

Starts with goodbye.

One of the most painful goodbyes is,
When you know that the next time you meet,
The hello wont be the same.

…………….

Tetes-tetes air mulai berjatuhan dari udara, nampaknya ia sudah tidak kuat menahan beban yang harus dibawanya, hembusan angin kencang membawanya ke permukaan kerak bumi dan tanpa basa-basi membasahi diriku. Sekejap pemandangan di bawah langit pun berubah, terkadang ia seperti memberikanmu hidup, memberikanmu aroma alam yang hanya sesaat saja dapat kamu nikmati, memberikanmu perasaan teduh dan siratannya berkata kalau ia ada bukan untuk menyusahkanmu melainkan hanya petanda dari hadirat alam. Terkadang ia juga mampu menenggelamkan sisi-sisi emosi di dalam dirimu, membuatnya menjadi kelabu, membuatmu merasa terpisah dari dunia, jauh, jauh.. dan sendiri.

Hai, apa kabarmu?

Apakah hari-harimu kini lebih baik? Apakah senyum sudah kembali dibibirmu dan dia dapat membuatmu tertawa kembali? Aku berharap kamu sudah bisa lebih bahagia di hari ini, dimana hari-hari sudah bukan lagi menjadi musuhmu dan kamu sudah dapat melewati setiap harinya tanpa menghitung pergantian waktu yang terus berputar. Aku berharap semangatmu sudah kembali hari ini, karena di hari ini kamu sudah dapat melewati hari-hari tanpa ada pilihan yang membebanimu. Aku berharap airmata sudah tidak lagi mengalir membasahi wajahmu, karena kamu sudah dapat hidup sebagaimana yang kamu inginkan. Aku berharap bayang-bayang diriku sudah tidak menghantuimu kemana pun dirimu pergi lagi, walaupun aku juga berharap agar aku tidak kamu lupakan. Aku berharap waktu-waktu malam sudah tidak lagi menganggumu dan kamu sudah dapat menghampiri mimpi tanpa kegelisahan di setiap lelap malammu sebelum mentari melangkah dengan senyumnya dari belahan timur. Telah lewat 30 hari perputaran waktu terbit dan tenggelam, dan perjalanan ini membawa dirimu semakin menjauh, sudahkah aku hilang dari radarmu, hai apa kabarmu?

Di akhir hari yang sudah terlalui yang kuingat adalah wajahmu yang terlihat lelah, perjuangan mungkin telah mengerogoti raut bahagianya menyisakan air wajah yang redup redam. Aku berharap wajah itu sudah tidak ada lagi, tergantikan oleh senyum kebebasan dan pelukan-pelukan hangat yang sempat tidak ada karena.. aku, karena kehadiranku.

Terkadang pikiran ini takut, takut jika aku tidak akan lebih bahagia daripadamu nanti dan harga diriku mulai mengharapkanmu hidup dengan duri dalam hatimu sampai dirimu menjadi abu. Pikiran ini juga takut, takut jika bertemu dan melihat dirimu bahagia merangkul kebebasanmu, bahagia tanpa aku, sehingga tubuh ini mulai berlari kencang untuk menjadi lebih bahagia. Aku tahu, ketakutanku hanyalah penghalang bagi kakiku untuk melangkah jauh, dan ketidakbahagiaanmu hanya akan membuat hati ini meronta tak rela untuk pergi. Sehingga aku melepaskan dan merelakannya untuk pergi, membiarkannya terbang mendekati langit, menukarnya dengan tetesan hujan yang berjatuhan dan berharap untuk melihatmu bahagia agar aku bisa pergi dengan senyum kelegaan.

Jagalah dirimu baik-baik, agar ia jangan kembali digerogoti oleh parasit-parasit tubuh sehingga menyusahkan kamu di usia senjamu nanti. Banyak-banyaklah tertawa agar membuatmu lupa untuk mengikiskan kedua gigimu. Jangan lupakan rambutmu yang sudah mulai menua. Apakah kamu sudah membersihkan kotoran ditelingamu hari ini?

Jagalah dirimu baik-baik, apa yang kamu makan, apa yang kamu minum, apa yang kamu lakukan. Karena aku masih ingin melihatmu di lima atau sepuluh tahun mendatang, melihatmu bahagia. Jika mungkin.. Jika garis perjalanan kita masih bersinggungan.

Aku dan kamu pernah tertawa bersama, saling berbagi kebahagiaan bersama, saling belajar bersama, saling mengisi hari-hari bersama, berbagi cerita, berbagi pengertian, berbagi tangis, saling berpelukan, saling menyakiti, menyerah, dan mengucapkan selamat tinggal.

Maafkan aku yang sudah sedikit melupakanmu di hari-hari ini.

Hai, apa kabarmu?

What Freedom Means To Women

What it is like to be a Muslim woman, and why we know what freedom is (and you may not)

source: http://aveilandadarkplace.com/2013/07/01/what-it-is-like-to-be-a-muslim-woman-and-why-we-know-what-freedom-is/

I have keys.

When I first moved to the United States eleven months ago, it took me several weeks to grasp this bit of information.

I have keys.

I have keys to my own front door and I can open this front door and walk down the street whenever I want to.

I can walk down the street without being watched through the windows and without anyone calling my parents and telling them I am roaming loose on the street.

I can walk down the street, sit down on a bench under a tree, and eat an iced cream cone. Then I can stand up and walk back home.

There will be nobody waiting for me at my house to ask me where I have been, refuse to let me in, call me a liar, and use my walk as renewed incentive to rifle through all of my possessions for proof that I am doing something wrong.

Because the simple desire to take a walk cannot but hide something deviant.

Because there is no good reason why a woman should want to walk down the street just to walk, and expose herself to the questioning and predatory eyes of the neighbors and strange men.

I have keys to my front door, now, and I can open my front door and walk down the street whenever I want to.

In the first weeks when I was in the United States, I had so much fear and trembling at this freedom. I stayed in my apartment alone during my first two days in my new home, and when I did finally venture out, I checked to make sure my keys and ID and wallet were in my purse a thousand times. I wore long, flowing dresses and tied my hair up in a scarf even though it was August and very hot, even though I am an atheist who happens to find no personal value in modesty, even though I was not going out to meet anybody and knew not a single man in town, even though I tried to convince myself that in this land it wouldn’t matter if I was. I looked around every corner and checked over my shoulder in case my father was somehow watching, lurking.

It took a couple of months to stop expecting to see my father in a place I was going or coming from.

I soon got into the groove of my new life, my new graduate program, my teaching and department readings and events. I actually went to bars and stopped feeling guilty about it. I met people. I made friendships, some of them with men, none of them that I had to hide or lie about. I had sexual and romantic relationships.

And all this while, and even now, it sometimes feels like I am another person living a distant dream. A phantom woman. A woman who is only pretending to do things and be things that were never hers.

Even now, I sometimes cannot believe I am not hallucinating all of this from a dark room in Beirut.

Even now, I wake up from dreams of Lebanon and think, “I have my own place. My front door. MY key. And I can open the door and walk out into the street? Whenever I want? And I have MY papers and MY things and MY income? And I can just go somewhere. When I want? I can do this?”

It must be a sick joke.

Continue reading

Crossroads

20140302-013405.jpg

“The paths you choose now can affect you forever. So here you are. You’re young. You’re free. You have your whole life before you. You’re standing at the crossroads of life and you have to choose which paths to take. The paths you choose today can shape you forever. It’s both frightening and exciting that we have to make so many vital decisions when we are here, but such it’s life.

We are free to choose our paths, but we can’t choose the consequences that come with them. You can choose which slide you want to go down, but once you sliding you can’t very well stop. You must live with the consequences.. to the end.”

Aku, Kamu, Kita

20140302-001700.jpg

 

“Aku ingin seperti ini selamanya.”

“Selamanya?”

“Aku, kamu, dan kita..”

 

Aku, kamu, dan kita. Tertawa dan berbagi cerita, menjelajah pikiran dan menelusuri detik-detik berlalu, bercengkrama dalam hening dan bertukar kebaikan. Sudah berapa lama kita bersama? Melewati hari-hari tanpa saling memberikan beban, menerawang lukisan masa depan, mengulurkan tangan untuk saling mengisi kekosongan.

Aku, kamu, dan kita. Berbagi kegirangan, menjaga batas dan saling menyembunyikan duka.

Aku ingin memberi pelukan hangat untuk kamu yang selalu mampu melewati hari-hari kerapuhan. Mengisi kekosongan dimatamu ketika ia meniti masa lalu tanpa ijinmu. Menyumbang senyum hanya untuk meyakinkan kamu tidak sendiri di perjalanan waktu.

Aku tahu anganku ini hanyalah harapan yang tidak bertuan. Aku, kamu dan kita akan berpisah ketika masing-masing jiwa ini menemukan jalan setapak yang berbeda untuk dilangkahi. Selintas terbayang pun sudah membuat denyut jantung ini bersedih, entah apakah ada ketulusan lain selain kebersamaan kata sahabat. Entah apakah ada pertalian lain yang lebih terasa berharga untuk ditinggalkan selain perkenalan antar sahabat.

Mataku pedih melihat pertalian yang tidak mengenal nilainya, ia hanya ada untuk suatu kebutuhan dan kemudian ditinggalkan ketika sudah menjadi sepah, berganti dan berlalu, tidak berharga dan hanya menjadi pijakan untuk segenggam ego berdiri ponggah diatasnya.

Aku, kamu, dan kita. Adalah cerita yang ingin selalu aku rindukan, tempat yang menjadikan aku seorang manusia. Seberapa jauhpun jiwa ini berusaha, aku tahu raga ini tidak mengenal kata berhenti untuk menjadi tua. Pada akhirnya aku, kamu dan kita akan menyerah pada tuntunan organ-organ yang terus merapuhkan dirinya tanpa lelah, sehingga aku, kamu, dan kita pada akhirnya harus.. pergi.., menelusuri jalan masing-masing, dan sampai kemudian cerita ini menjadi hilang keberhargaannya.